UNNES CONFERENCE, SEMINAR NASIONAL EVALUASI PENDIDIKAN II

Font Size: 
ESTETIKA KESENIAN DANGSAK WATULAWANG
Ari Setyawati

Last modified: 2015-10-20

Abstract


Kesenian tradisional tumbuh dan berkembang dilingkungan masyarakat sebagai warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Sangat jelas bahwa kehidupan manusia dapat dikatakan kurang lengkap tanpa adanya unsur seni yang menyertai dalam kehidupannya, karena disadari atau tidak seni merupakan bagian dari kehidupan manusia. Kesenian yang lahir dan berkembang dalam suatu masyarakat tidak mungkin muncul dengan begitu saja tanpa ada yang melatarbelakangi. Faktor-faktor yang melatarbelakangi lahirnya sebuah kesenian antara lain adalah faktor sosial, faktor ekonomi, faktor kepercayaan, serta faktor teknologi.Seni tardisional rakyat yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sesungguhnya mempunyai fungsi penting terutama dalam penyebaran dan fungsi sosialnya sebagai tradisi, kesenian timbul dan berkembang di berbagai daerah dengan macam dan cirri khas yang tentunya tidak lepas dari adat dan kebiasaan yang terjadi di daerah itu sendiri (Jazuli 2011:192). Salah satu bentuk kesenian yang berkembang di tengah-tengah masyarakat adalah kesenian Dangsak. Kesenian dangsak merupakan salah satu kesenian tradisional yang ada di Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen.Saat ini kesenian Dangsak dipentaskan pada peringatan kemerdekaan RI sebagai penghormatan kepada jasa-jasa para pejuang dan kemudian berkembang pada acara-acara desa lainnya seperti peresmian, Hajatan, syukuran panen dan lain-lain.CKesenian dangsak pada awalnya diciptakan oleh Bapak Lamijan sekitar tahun 1943 di Dusun Karangjoho. Setelah bapak lamijan meninggal dunia, kesenian ini dilestarikan oleh bapak Dawintana.Berangkat dari sana, maka timbul keinginan untuk mengkaji estetika kesenian dangsak yang berasal dari Desa Watulawang Kecamatan Pejagoan . Adapun masalah yang timbul yaitu, bagaimanakah estetika Kesenian Dangsak, yang terdiri dari koreografi, dan fungsi Kesenian Dangsak.Tujuan dibuatnya peper ini agar masyarakat umum dapat lebih mengetahui serta mengenal apa itu kesenian dangsak, dan dimana letak estetika kesenian dangsak. Sehingga kesenian dangsak ini tidak akan punah dan tetap dilestarikan oleh generasi muda.Teori maupun konsep yang mendasari penelitian ini adalah estetika, koreografi tari, penilaian dan teori fungsional.

Full Text: PDF